Selasa, 15 Januari 2008

i-advertising vs iklan konvensional

I-Advertising vs Iklan Konvensional

Periklanan merupakan bagian dari sebuah kehidupan manusia sehari-hari untuk mendapatkan informasi dari produk barang dan jasa. Dalam Sugiarto (2003) periklanan menurut The American Marketing Assosiation (AMA) adalah berbagai bentuk presentatifatau penyampaian pesan, ide-ide yang sifatnya non personal yang didasarkan pada pembayaran oleh sponsor yang diketahui identitasnya, sedangkan periklanan menurut tata karma dan Tata cara periklanan Indonesia (PPPI) adalah proses dalam kegiatan untuk menawarkan hasil produk atau jasa dengan melalui biro iklan atau menggunakan suatu media kegiatan yang meliputi proses perencanaan pesan sampai dengan penggunaan hasil penyampaian pesan tersebut, sedang pesannya dinamakan iklan.

Iklan berasal dari bahasa latin “Adverte” yang berarti megarahkan. Secara umum iklan biasa disebut sebagai suatu bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk mengintrepetasikan kualitas produk jasa dan ide-ide berdasarkan kebutuhan dn keinginan konsumen. Dalam pengertian yang paling sederhana iklan adalah pesan atau penawaran suatu produk atau jasa yang ditujukan kepada khalayak lewat suatu media. Definisi iklan adalah setiap bentuk presensi non personal dan promosi gagasan barang atau jasa yang dibayar oleh sponsor tertentu, secara sederhana iklan didefinisikan oleh Rheinald Kasali sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakant lewat suatumedia (Kasali, 1992:9). Tujuan iklan yaitu untuk mengidentifikasikan produk dan membedakannya dengan produk lainnya. Jika pihak produsen belum dapat mengidentifikasi produknya dengan baik dan menunjukan perbedaaan dan keunggulannya dari produk lain maka konsumen memilih produk tersebut, iklan adalah sarana utama dalam pemasaran produk, jasa dan pemikaran. Intinya adalah menjual kepada konsumen.

Struktur baku sebuah iklan pada dasarnya tidaklah ada, tetapi kebanyakan setiap iklan dibentuk berdasarkan AIDA, yaitu Attention, Interest, Desire, and Action. Permasalahan pertama dalam periklanan adalah mendapat perhatian. Pesan dalam iklan mungkin penting tapi bila tidak ada konsumen yang melihatnya maka hal itu tidaklah berguna

Pada hakekatnya iklan adalah komunikasi satu arah, dari pengusaha kapada calon konsumen. Suatu komunikasi dimana telah menghabiskan biaya cukup banyak dengan harapan agar imbalannya bagi kepentingan suatu usaha lebih besar sebagai timbal baliknya.

Manfaat iklan adalah sebagai berikut :

- Memperluas alternative.

- Membantu produsen menimbulkan kepercayaan bagi konsumen pada produknya.

- Iklan membuat orang kenal, ingat dan percaya pada produknya.

Di dalam pemasangan iklan hendaknya tidak semata-mata hanya mempertimbangkan yang akan menjadi sasarannya, akan tetapi juga perlu dipertimbangkan pihak-pihak lain yang mungkin berhubungan dengan iklan dan sasarannya.

Dengan demikian periklanan disusun dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut (Soehardi Sigit 1987: 51-52)

- Para pembeli dan pembeli pada waktu sekarang.

- Mereka yang memiliki potensi untuk menjadi pembeli.

- Mereka yang mempunyai kekuasaan dalam memutuskan pembelian.

- Mereka uang akan menjadi pembeli atau pemakai di masa datang.

- Mereka yang dapat mempengaruhi orang lain untuk membeli.

Ada beberapa macam jenis-jenis iklan jika dilihat dari perkembangan jaman yaitu iklan konvensional dan iklan online atau biasa disebut dengan e-commerce (webvertising).

Iklan konvensional adalah jenis iklan yang sudah ada sejak pertama kali iklan digunakan. Contoh iklan konvensional adalah penyebararan pesan iklan yang menggunakan media televisi (Television Commercial), media radio, surat kabar, spanduk, billboard, selebaran, flyers, brosur, dan lain-lain, baik above the line maupun bellow the line.

Iklan konvensional hingga saat ini masih digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk mengiklankan produk mereka kepada para calon konsumennya. Karena iklan konvensional masih dianggap sebagai cara beriklan yang efektif dan efisien terutama beriklan di Indonesia.

Keuntungan dari iklan konvensional adalah :

· Iklan dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat tanpa melihat latar belakang dari masing-masing orang.

· Iklan konvensional dapat menjangkau tempat-tempat yang terpelosok sekalipun.

· Masyarakat yang menerima eksposur dari iklan tidak perlu memiliki keahlian khusus.

Kelemahan dari iklan konvensional adalah :

· Iklan konvensional biasanya bersifat satu arah sehingga tidak dapat diketahui umpan balik atau akibat yang dihasilkan dari iklan tersebut secara cepat dan tepat.

· Biaya yang harus dikeuarkan untuk memproduksi dan menyebarluaskan iklan tidaklah murah dan tergolong mahal.

E-Commerce

Webvertising, kependekan dari web-advertising kini sudah merupakan hal yang lumrah dilakukan. Sejak pertama kali internet dibuka untuk dipergunakan secara luas oleh publik membuka juga peluang bisnis melalui media internet atau lebih dikenal dengan sebutan electronic commerce (e-commerce) dimana semua kegiatan transaksi dilakukan mempergunakan media internet ini, baik pemesanan maupun pembayaran yang dilakukan secara online.

Mengapa pelaku usaha beralih ke internet? Ada beberapa alasan, antara lain :
1. menaikkan pendapatan yang didapatkan dari konsumen baru dengan basis internet
2. memangkas biaya marketing dengan hanya menggunakan katalog online
3. mempertahan konsumen yang loyal dengan memperkuat hubungan ke konsumen dengan memberikan pilihan bagi konsumen serta pemberian informasi melalui sistem penjualan online

4. menghemat waktu

5. menghindari kehilangan pangsa pasar akibat persaingan dengan kompetitor

Pelaku usaha memburu calon konsumen (internet users) karena secara umum konsumen ini mengenyam pendidikan yang baik dan mempunyai penghasilan lebih baik dari masyarakat secara umum.

Webvertising memang berbeda dengan iklan yang dilakukan secara konvensional seperti : penyebaran brosur, penempatan iklan-iklan di majalah, koran, ataupun Televisi. Perbedaan mendasar terletak pada konsumen (baca: calon konsumen) yang tentunya berbeda pangsa pasarnya. Dalam beriklan secara konvensional, melalui televisi misalnya, siapapun dapat melihat informasi yang diiklankan, berbeda dengan iklan yang ditayangkan melalui internet dimana konsumennya terbatas pada pengguna internet (user), dan itu pun belum tentu mereka mengunjungi situs-situs dimana pelaku usaha mengiklankan produk yang dijualnya.

Lalu, apa solusinya? Webvertising yang umum digunakan adalan dengan menggunakan banner advertising, selain itu juga dikenal ‘pop-up windows yang menampilkan situs dalam bentuk mini kepada user. Hal lainnya yang tidak asing di kalangan user adalah spamming terhadap misalnya email gratis yang banyak ditawarkan di internet. Mengganggu? memang, belum lagi informasi yang dikirimkan melalui email yang didapat dengan cara mengintip atau tepatnya mengambil data pengguna alamat email gratis yang pada akhirnya hanya memenuhi inbox dari pemilik alamat email tersebut. Belum lagi adanya kemungkinan penipuan dengan memberikan informasi yang salah/tidak benar dalam iklan yang ditayang tersebut atau tendensi wanprestasi yang cukup besar.

http://www.lkht.net/artikel_lengkap.php?id=24

Secara garis besar interaksi bisnis lewat e-commerce dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu antar organisasi/perusahaan atau B2B (Business-to-Business), intern organisasi/perusahaan (within business), dan pelanggan terhadap perusahaan B2C (Customer-to-Business).

Dalam kategori pertama, e-commerce memfasilitasi interaksi antar perusahaan sehingga solusi-solusi manajemen dari awal sampai akhir dapat dilakukan secara efektif. Ini artinya rantai jaringan yang menghubungkan pelanggan, pegawai, pemasok, distributor dan bahkan pesaing dapat dikendalikan secara terintegrasi. Untuk kategori kedua, e-commerce yang lebih sering difasilitasi oleh intranet merupakan katalis untuk menghantarkan dinamika-dinamika intern organisasi menuju perusahaan modern.

Sehingga pada gilirannya, seperti ditulis pakar manajemen Peter F. Drucker dalam artikel The Coming of the New Organization, perusahaan akan berubah paradigma dari organisasi yang berdasarkan komando dan kontrol hirarkis yang terdiri dari divisi dan departemen kepada organisasi yang berbasiskan informasi, yaitu organisasi dari spesialis-spesialis pengetahuan (knowledge). Sedangkan pada kategori ketiga, e-commerce memfasilitasi interaksi pelanggan dengan perusahaan secara elektronis untuk mempelajari, memilih sekaligus membeli produk-produk yang ditawarkan. Pula, pelanggan dapat melakukan pembayaran secara elektronis baik dengan cek elektronik atau sistem pembayaran elektronik lainnya yang lebih dikenal dengan e-payment.

Dalam hal ini banyak juga aspek hukum yang dapat dikaji lebih dalam tentang keabsahan transaksi elektronik misalkan dengan adanya suatu otoritas sertifikasi (Certification Authority). Selain itu, e-commerce tentu pula memungkinkan seorang konsumen berinteraksi dengan yang lainnya melalui misalnya surat elektronik (e-mail), video conferencing atau newsgroups sehingga mereka bisa berbagi informasi untuk produk atau jasa baru yang ditawarkan.

Sebagaimana dinyatakan di atas, e-commerce adalah lahan baru untuk membangkitkan dan mengeksploitasi bisnis yang mengutamakan efektivitas dalam pelaksanaannya. Artinya, e-commerce menyelenggarakan transaksi bisnis melalui jaringan elektronik dengan sejumlah perbaikan terhadap kinerja bisnis tradisional. Sehingga akan tercipta wajah bisnis baru dengan unjuk kerja lebih baik: kualitas interaksi, kepuasan pelanggan dan efektivitas pembuatan keputusan.

Juga, perusahaan dapat memperoleh efisiensi ekonomis yang lebih baik dengan menurunkan biaya-biaya (costs). Padahal kecepatan pertukaran barang dan jasa tetap terjamin cepat bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Karena itulah e-commerce terkenal dengan semboyannya: "do more with less".

Dengan didukung oleh teknologi Web, e-commerce dapat dibangun dengan biaya yang murah. Dengan hanya bermodalkan sebuah personal computer (PC), sebuah modem dan account Internet; seseorang sudah dapat membuat sendiri atau memesan sebuah homepage untuk penyelenggaraan e-commerce. Di arena Internet, seorang pebisnis kecil dapat berkompetisi dengan pebisnis-pebisnis raksasa yang sudah ada sebelumnya tanpa harus takut kalah bersaing. Malahan para raksasa ini terkadang dipaksa untuk mengkonsep ulang strategi dan struktur pembiayaan usaha mereka agar tetap kompetitif dalam mengadu nasib di dunia bisnis baru itu. Hal ini misalnya terjadi pada raksasa bisnis Time Warner atau Disney yang dipaksa harus bersaing keras dengan para pendatang baru yang lebih kecil di e-commerce yang juga membidik pasar yang sama dengan kedua raksasa tersebut.

Dilihat dari sisi peluang pasar (marketplace), e-commerce dapat menjangkau pasar-pasar regional, nasional bahkan internasional. Tidak ada batas yang dapat mempersempit pasar bisnis di dalam jaringan Internet ini selain kehandalan manajemen si pebisnis sendiri. Memanfaatkan jaringan global ini pula, perusahaan-perusahaan dapat lebih mencurahkan kepeduliannya terhadap para konsumen mereka, vendor atau distributornya sehingga dapat terbentuk segmentasi pelayanan yang lebih terarah.

Sedangkan dalam rangka membangun pangsa pasar baru dan jalur-jalur distribusi, para pelaku bisnis dapat menggunakan e-commerce untuk mengenalkan aset-aset yang mereka miliki seperti merk, infrastruktur operasional, informasi terkait, dan pendidikan pelanggan (customer education) dengan cara lebih murah dan efektif. Contoh yang telah berjalan dalam penciptaan pasar baru adalah apa yang telah dilakukan oleh Time Warner dengan situs Web-nya bernama Pathfinder. Melalui situs ini, Time Warner menerbitkan majalah-majalah popular mereka seperti Time, Money dan lain-lain.

Pathfinder sendiri mendapatkan pembayaran dari penjualan iklan dan pelanggan yang mengaksesnya. Dengan cara ini, penerbit berusaha mengintegrasikan produk layanannya, membuat segmentasi pelanggan berdasarkan produk tersebut dan lebih profesional. Dalam hal distribusi produk lewat e-commerce, perusahaan software seperti Netscape telah memanfaatkan teknologi baru Web untuk menjual sekaligus mendistribusikan software-software komoditinya secara elektronis.

Hal lain yang menjadi kendala adalah keamanan sistem baik yang sifatnya fisik seperti perangkat komputer dan jaringannya maupun isi informasi/transaksinya sendiri. Sebagai jaringan publik, Internet terbuka bagi semua pemakai tak terkecuali mereka yang menyusup untuk mendapatkan keuntungan secara ilegal.

Hal ini misalnya bisa terjadi pada "pencurian" kartu kredit yang sedang digunakan pada pembayaran secara online. Oleh karenanya, e-commerce harus disertai dengan penerapan sistem keamanan pula. Sedikitnya ada lima standar keamanan yang harus ada pada penyelenggaraan e-commerce: privacy, authenticity, integrity, availability, dan blocking.

Privacy adalah kemampuan untuk mengontrol siapa yang dapat atau tidak membuka informasi dan dalam kondisi apa hal itu bisa dilakukan.

Authenticity adalah kemampuan untuk mengetahui identitas pihak-pihak yang sedang melakukan komunikasi pada jaringan e-commerce tersebut. Dalam hal ini Certification Authority (CA) merupakan suatu hal yang kiranya sangat penting untuk diperhatikan.

Integrity adalah jaminan bahwa informasi yang disimpan atau yang ditransmisikan tidak akan tercecer.

Availability adalah kemampuan untuk mengetahui kapan pelayanan informasi dan komunikasi dapat atau tidak tersedia; dan

Blocking adalah kemampuan untuk memblokir penyusup atau informasi yang tidak dikehendaki.

http://www.lkht.net/artikel_lengkap.php?id=19

KESIMPULAN

Dari artikel diatas dapat saya simpulkan bahwa kegiatan beriklan baik secara konvensional maupun secara online sama-sama baiknya. Masing-masing jenis iklan memilki kelebihan dan kelemahanya masing-masing. Tidak ada yang lebih baik dan tidak ada yang lebih jelek.

Iklan konvensional lebih mahal dibandingkan dengan iklan online, di Indonesia sendiri masih digunakan oleh sebagian besar perusahaan-perusahaan untuk memasarkan produk mereka. Karena di Indonesia masih banyak masyarakat yang tinggal didaerah-daerah pelosok sehingga terkadang target market yang mereka jadikan sasaran tidak akan sampai kepada calon konsumen dan belum banyak juga masyarakat di Indonesia yang sudah mengenal internet (hanya orang-orang tertentu saja yang sudah mengenal internet).

Begitu pula sebaliknya, meskipun iklan online hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan lebih dibidang computer terlebih internet tetapi beriklan melalui internet juga memiliki keunggulan tersendiri yang tidak dimiliki jika beriklan dengan cara konvensional. Beriklan melalui internet dapat menembus batas wilayah negara maupun benua. Target audiens-nya jauh lebih luas dibandingkan dengan iklan konvensional sehingga mampu untuk mendapatkan konsumen dari luar negeri sekalipun dan juga sasarannya lebih dapat terspesifikasikan. Kontrol iklan online dapat dilakuan sehingga dapat diketahui juga berapa banyak orang yang melihat iklan kita di internet. Bahkan hasilnya pun lebih banyak ketimbang iklan konvensional